Minggu, 25 Maret 2012

Artwork in Visual Art Exhibition "Hi[s]tory"








"Pilihan Ganda"
multiple-choice
 Material :
Coffee on teak wood, acrylic, iron, brass
Dimension :
43cm x 28cm x 52cm

Detail






"My Name Is Awi"
Material :
Coffee on teak wood, iron, acrylic, aluminium, and kawista fruit
Dimension :
35 cm x 26cm x 27cm


Detail

  




"Hening Sejurus"
Photographic media
Material :
Print on paper
Dimension :
45cm x 30cm
  






"Let's Drink Together"
Material :
Teak wood, iron, acrylic, aluminium, kawista fruit
dimension : 
102cm x 100cm x 44cm


Detail






"Meruang" 
Material:
teak wood, acrylic
Dimension:
25cm x 46cm x 22cm



Detail











"The Abandoned"
Photographic media
Material : 
Print on paper (3 panels)
Dimension:
92cm x 30cm














"Rainy Day"
Material:
Teak wood, acrylic, aluminium, iron
Dimension:
94cm x 70cm x 23cm






Detail

Minggu, 30 Januari 2011

Solo Exhibition "TINGGAL ITU" by Octo Cornelius

"Tinggal Itu"
Octo Cornelius
Pameran tunggal foto dan instalasi
22 Desember 20010 - 12 Januari 2011

Rembang Pulang, Ingatan Berjalan

"Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, membentang 1.000 kilometer sepanjang utara Pulau Jawa, dari Anyer sampai Panarukan. Sejak dapat dipergunakan pada 1809 telah menjadi infrastruktur penting, dan untuk selamanya. Dengan jatuhnya Hindia Belanda pada 1942, disusul masa-pendek pendudukan militerisme Jepang sampai 1945, berlanjut denga Revolusi 1945-1949, orang sudah tak peduli lagi bahkan tidak ingat lagi padanya"
                                                                            Jalan Raya Pos, Jalan Daendels - Pramoedya Ananta Toer

          "Ingatan" dan "kehilangan" adalah dua hal berkaitan yang setiap manusia pastipunya. Pengalaman melakoni atau menjalani hidup akan menghasilkan ingatan dan keterbatasan manusia sebagai makhluk hidup akan membawanya menuju pengalaman kehilangan. Karena toh pada akhirnya tidak ada satupun yang abadi di dunia ini,tidak ingatan, tidak juga sebuah rasa kehilangan. Melalui "Tinggal Itu", Octo Cornelius berbicara tentang pengalaman, ingatan, kehilangan, hal-hal yang terlupakan : berbicara tentang penggalan hidupnya.

          "Out of The Darknest" menceritakan salah satu fase dalam hidupnya saat ia harus meninggalkan kenangan masa kecilnya, untuk pergi menuntut ilmu da menjalani hidupnya hingga saat ini, di Yogya. Meninggalkan kebiasaan dan kegemaranya membuat perabot kayu, menuntut ilmu sebagai mahasiswa fotografi.

         Kemudian Octo kembali berbicara dengan rangkaian karya fotoyang mengabadikan ritual Sedekah Laut di kota kelahiranya, Rembang, yang diadakan setiap satu syawal. Sedekah Laut yang merupakan ritual masyarakat pantai utara Jawa untuk berterimakasih pada laut ini justru sengaja ditampilkan tidak utuh. Efek alami pada foto terjadi setelah bertahun-tahun, potongan-potongan cerita dalam rangkaian foto tersebut terabaikan, terlupakan. Saat ditemukan kembali dan dibersihkan, yang tinggal adalah potongan-potongan gambar dari potongan-potongan cerita.

         Melalui "Maaf, Aku Sudah Membunuh Mesin" Octo mengorek ingatanya akan motor trail custom yang pernah akan dibangun oleh mendiang ayahnya, dilanjutkan , namun tidak pernah selesai, bahkan tidak pernah benar-benar terpakai, hingga menjadi bangkai.

         "Tinggal Itu" adalah rangkaian kisah seorang Octo yang ia gali dan ceritakan kembali dalam usahanya menemukan hidupnya yang sekarang, kisah cinta, kenangan keseharianya sebagai mahasiswa, usahanya untuk keluar dan luluskulia, lewat "Sangkar Madu", atau "Laju Menderu".

                                           "we are today simply built from yesterday, after all"

          Seperti kota Rembang, seperti ritual Sedekah Laut, seperti Jalan Raya Pos yang melewati Rembang, seperti masa kecil Octo, seperti ingatan-ingatan penting lainya yang pernah singgah. Ingatan yang larut kemudian hilang atau terlupakan. Seperti hidup itu sendiri, melalui perjalanan waktu menggerus melaju, meninggalkan ingatan, kadang rasa kehilangan. Kemudian yang tersisa, tinggal itu.

                                                                                                                               Amanda M. Paramita
                                                                                                                      ViaVia alternative art space 

Artwork title " Sangkar Madu "
Material : Wood + Aluminium + Iron
60cm x 40cm x 39cm


Artwork Title " Out of The Darknest "
Material : Wood  + Aluminium + Iron
140cm x 103cm x 62cm


Artwork Title " Ma'af, Aku Sudah Membunuh Mesin "
Material : Wood + Iron
80cm x 145cm x 20cm


Artwork Title " Laju Menderu "
Material : Mix media
66cm x 35cm x 32cm



Photo display
Photo Display
Photo Display
Photo Display



Photo Full frame
Photo Full Frame
Photo detail. Size without frame : 6,5cm x 9cm
Photo Full frame
Photo Detail. Size without frame : 6,5cm x 9cm
Photo Full Frame
Photo Detail. Size without frame : 6,5cm x 9cm
Photo Full Frame
Photo Detail. Size without frame : 6,5cm x 9 cm
Photo full Frame
Photo Detail. Size without Frame : 6,5cm x 9cm
Photo full Frame
Photo Detail. Size Without Frame : 6,5cm x 9cm
Photo Full Frame
Photo Detail. Size without frame : 6,5cm x 9cm
Photo Full Frame
Photo Detail. Size without Frame : 6,5cm x 9cm

Keterangan teknis :
Foto-foto adalah cetakan yang rusak karena lembab dalam penyimpanan. sehingga ada bagian yang hilang di cetakan setelah dibersihkan dengan air dan sabun. Tetapi bagian yang tidak lembab, masih tetap bertahan meski dicuci dengan sabun secara berulang-ulang.
Foto- foto tersebut adalah hasil pendokumentasian acara rutin tahunan "sedekah laut" atau syukuran kepada laut sebagai tempat mata pencaharian, dan beberapa acara yang mengikutinya,salah satunya adalah kompetisi olah raga Kasti pada tahun sekitar 2005. Acara ini banyak ditemui di kampung-kampung nelayan, di pantai utara pulau Jawa, tepatnya di kabupaten Rembang sekitar semingu setelah hari raya Idul Fitri.
Sehingga munculah sebuah ide untuk memamerkannya. Karena gambar difoto sudah tidak utuh lagi, menurut saya disitulah muncul sebuah daya tarik. Tanpa disadari, gambar-gambar tersebuat membentuk komposisinya yang baru, dan yang akhirnya dipadu dengan bingkai dengan kayu yang bentuknya acak. Karena itu adalah kayu-kayu potongan yang disebut dengan Tatal dari sebuah tempat usaha furniture yang biasanya dijual untuk kayu bakar rumah tangga.
Karena rasa eman-eman, saya memilah kembali., dan terkumpulah  potongan kayu yang menurut saya pantas untuk dirawat dan dijadikan sesuatu yang berbeda, dari sekedar menjadi bahan bakar saja.